Praktek Membangun Konservasi yang Dipimpin Masyarakat

Penelitian Menjadi Penjaga menelusuri pengalaman empat komunitas di Kalimantan Barat yang sedang membangun organisasi untuk memimpin upaya konservasi.

Pemerintah Indonesia dan dunia internasional semakin mengakui bahwa masyarakat adat dan masyarakat lokal adalah penjaga alam yang efektif dan bahwa konservasi harus mendukung kesejahteraan dan hak masyarakat. Akan tetapi, pengakuan ini seringkali membawa beban baru: tanggung jawab atas kondisi lingkungan, tuntutan perubahan sosial-ekonomi, dan urusan administrasi yang menyita waktu dan tenaga.

Untuk memahami praktek konservasi yang dipimpin masyarakat, kami langsung belajar dari masyarakat tersebut. Apa yang mereka lakukan dan rasakan? Dukungan apa yang diberikan oleh mitra? Dan apa yang dibutuhkan agar konservasi yang dipimpin masyarakat menjadi lebih efektif dan adil?

Masukkan alamat email Anda untuk menerima notifikasi postingan baru.

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Menggunakan Realist Evaluation dan Process Tracing untuk menjelaskan akibat penurunan tingkat deforestasi

Di pertengahan tahun ini, kami hampir selesai dengan tahap pertama – observasi partisipan untuk eksplorasi terbuka. Bagian kedua, evaluasi dampak, telah dimulai. Berikut update tentang itu. Maafkan kami ya: ini akan agak teknis. 

Baca Cerita

Lebih Dari Sekadar Makanan: pesta babi hutan di tengah lanskap yang berubah

Sepulang dari ladang maupun sungai, kerap kali mereka menikmati minuman dan kudapan sore di rumah salah seorang warga, berbincang tentang apa saja demi mengusir senggang. Namun, sore ini terasa istimewa, bak sebuah pesta perayaan yang merefleksikan tentang bagaimana bentang alam yang kian berubah.

Baca Cerita

Memikul beban pengakuan

“Selama ini hutan negara, ya itu urusan negara,” katanya. Tapi kalau ada izin, “kami yang akan disuruh menjaga hutan, dan kalau hutan rusak, kami yang akan dimarahi.” Ia menyimpulkan: lebih baik tidak punya izin sama sekali daripada punya izin yang tidak bisa dimanfaatkan.

Baca Cerita

Es Tebu dan Kemitraan Sawit di Warung Takjil

Cerita Cik Gu mewakili dilema yang dihadapi seluruh warga desa: apakah mereka akan tetap mempertahankan lahan leluhur yang sulit mereka kelola sendiri, atau menyerahkannya kepada pihak lain dan mendapatkan waktu serta dana untuk melakukan hal-hal lain, termasuk menjalankan PUMK mereka.

Baca Cerita

Garam dan Asam di Mengkalang Jambu

Kak Desintha dan saya lumayan terkejut karena kami kira garam dan asamnya akan dibuat untuk memijat kaki, ternyata malah dioleskan ke mulut. Bisa dibilang, kami sudah sedikit makan garam dan asam di Mengkalang Jambu.

Baca Cerita