Es Tebu dan Kemitraan Sawit di Warung Takjil

April 27, 2026 dewirafika

Warung Simyong sore ini ramai. Matahari masih tinggi, panasnya terik, udara terasa gerah dan lengket di kulit. Di depan warung, Simyong dan Matik sibuk mengupas batang tebu yang kemudian digiling dengan mesin pemeras tebu yang mengeluarkan suara berisik. Kantong-kantong plastik berisi sari tebu berjajar di meja jualan Simyong. Aneka takjil tersusun rapi: ada bingke, aneka gorengan, donat, dan lapis yang seakan menunggu pembeli untuk kudapan waktu berbuka. Di sisi lain ada Kati yang sedang menggoreng bakwan udang yang menjadi kue wajib desa ini.

Beberapa orang dewasa duduk di bangku panjang kayu. Ada yang tetap duduk di motor sembari menunggu pesanan sari tebunya siap. Sementara anak-anak kecil berlarian di sekitar warung, sesekali merengek meminta jajan pada orang tuanya karena mereka tidak berpuasa. Suasana sore menjelang buka puasa itu terasa riuh, tetapi santai. Percakapan saling bersahutan bercampur dengan suara mesin tebu dan wajan penggorengan yang berdenting.

Sebuah Ruang Publik Dadakan 

Berburu takjil adalah momen yang tepat untuk saya berbaur. Setelah seharian seisi desa tampak kosong, warung-warung takjil menjadi ruang publik dadakan bagi warga MJ dari segala kalangan. Warung Simyong, yang dulu sempat ambruk dan hanya berdiri saat Ramadan, kini menjadi pusat pertemuan informal yang strategis.

Saya memesan dua ikat es tebu dan memilih duduk di bangku panjang kayu, tepat di samping seorang ibu yang sejak tadi diam menunggu pesanannya. Ini adalah kunjungan pertama saya ke warung yang baru, dan Simyong, yang dikenal sangat baik hati dan terbuka, dengan cepat terlibat dalam obrolan ringan. 

Gambar: Warung Takjil (oleh Dewi Rafika, 2026)

Simyong merupakan salah satu pengurus PUMK. Pembicaraan kami mulanya seputar PUMK, program, dan kegiatan, basa-basi yang cair. Saya sempat menyampaikan bahwa rencana saya untuk menemui Pak Kades hari itu gagal. Simyong segera merespons, memberi tahu bahwa Pak Kades sedang ada rapat penting, yaitu rapat membahas kemitraan desa dengan PT Sintang Raya. Topik tentang kemitraan sawit rupanya sedang menjadi agenda hangat yang mewarnai kehidupan desa.

Simyong kemudian menunjuk ke ibu berkerudung kuning yang diam duduk di samping saya.

“Nah, ini, Cik Gu, ini baru tanda tangan kemitraan,” kata Simyong, sambil mengikat es tebu.

Cik Gu tersenyum tipis, sedikit canggung karena tiba-tiba menjadi pusat perhatian. Saya memalingkan tubuh sedikit ke arahnya, mencoba menangkap ekspresinya. Ia mengangguk pelan membenarkan. Saya mencoba mengenalkan diri kepada Cik Gu, dan ia pun mengenalkan dirinya. Rupanya Cik Gu merupakan pengurus PUMK yang bekerja sebagai guru SD sehari-hari. 

Ia menjelaskan bahwa lahannya baru saja resmi masuk dalam skema kemitraan dengan PT Sintang Raya. Alasannya sederhana, katanya, karena ia tidak lagi memiliki kuasa mengelola lahan sendiri. Mengelola kebun membutuhkan tenaga, biaya, dan waktu yang besar, sedangkan kondisinya saat ini tidak memungkinkan. Saya menangkap ada kelelahan dalam nada suaranya. Mengelola lahan berarti membersihkan, merawat, menjaga dari hama, memastikan hasil. Semua itu membutuhkan modal yang besar dan komitmen waktu yang sulit dipenuhi oleh seorang guru SD sekaligus pengurus PUMK seperti Cik Gu.

Cik Gu menekankan bahwa kemitraan menjadi jalan yang menurutnya paling memungkinkan. Daripada lahan terbengkalai atau tidak terurus, lebih baik masuk dalam sistem perusahaan. Terkait perjanjian, beliau mengatakan akan mendapatkan uang Rp10.000.000 per hektar lahan sebagai pembayaran di awal. Cik Gu mengajukan 3 hektar lahannya untuk kemitraan. Menurut Cik Gu, lahan tersebut akan dikelola PT Sintang Raya selama kurang lebih 7-10 tahun sebelum akhirnya dikembalikan kepada pemilik lahan untuk dipanen hasilnya. Cik Gu juga menambahkan bahwa dana hasil kemitraan ini nantinya akan dikelola melalui koperasi.

Pilihan Berlapis

Pertanyaan penting tidak selalu muncul di ruang rapat atau dokumen resmi. Kadang ia justru hadir di bangku warung, di sela orang membeli takjil, dalam obrolan ringan yang diucapkan tanpa beban. Cerita Cik Gu mewakili dilema yang dihadapi seluruh warga desa: apakah mereka akan tetap mempertahankan lahan leluhur yang sulit mereka kelola sendiri, atau menyerahkannya kepada pihak lain dan mendapatkan waktu serta dana untuk melakukan hal-hal lain, termasuk menjalankan PUMK mereka. Pilihan-pilihan seperti ini menyimpan banyak lapisan: bagaimana berhadapan dengan kebutuhan hidup sehari-hari, keterbatasan tenaga, dan tawaran dari pihak luar.

Es tebu saya sudah selesai diperas. Wadah-wadah takjil pun mulai perlahan kosong. Warung kembali seperti biasa, ada orang datang, orang pergi, percakapan berganti topik. Namun bagi saya, obrolan singkat sore itu meninggalkan jejak yang cukup panjang, mengubah arah langkah saya di lapangan. Saya perlu mencari tahu bagaimana mekanisme kerja koperasi dijalankan, bagaimana warga memandang kesepakatan ini, dan sejauh mana pemerintah desa ikut menentukan arah hubungan tersebut. Pada akhirnya, ini memunculkan pertanyaan tentang bagaimana masa depan lahan dibayangkan dan dibentuk oleh mereka yang hidup paling dekat dengannya. Apakah kemitraan sawit ini akan membuka ruang bagi masyarakat untuk mengelola sumber daya mereka sendiri, atau justru membuat ruang itu semakin sempit?

Eksplorasi konten lain dari Menjadi Penjaga

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca