Kamis pagi, 22 Januari 2026, menjadi awal dari perjalanan orientasi lapang untuk kami, Tim Riset Sosial Lestari (Risoles). Sebanyak tujuh orang peneliti terlibat dalam perjalanan ini, terdiri dari dua peneliti dari YPI (Paul dan Bang Rodi), satu dosen dari Universitas Tanjungpura (Bu Kartikawati), dan empat peneliti sosial (Desintha, Dewi, Fara, Fahmi). Penelitian kami berfokus pada proses membangun konservasi yang dipimpin masyarakat. Kunjungan ini bertujuan untuk melatih peneliti dalam observasi partisipan dan penulisan catatan lapangan.
Bagi sebagian dari kami, pengalaman ini membuka mata bahwa riset tidak selalu tentang mencatat dan menilai menggunakan angka atau deretan data seperti tabel, grafik, dan laporan yang terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, di lapangan kami melihat riset secara lebih dekat dengan hadir sepenuhnya di tengah masyarakat. Melalui observasi partisipan, kami menghadapi beragam rasa, mulai dari sambutan manis, ketegangan yang terasa getir, hingga kejadian tentang garam dan asam yang membuat kami terkejut.
Pesisir dan Parit
Perjalanan melalui jalur air dimulai dari Dermaga Rasau Jaya. Kami menaiki speedboat kecil bermuat 8 orang, menyusuri Sungai Kapuas menuju Desa Sungai Nibung untuk singgah, kemudian melanjutkan perjalanan ke desa tujuan. Air sungai membentang luas seperti jalan tanpa ujung, membawa kami menjauh dari hiruk-pikuk kota. Angin terasa lembap, dengan aroma khas air payau yang samar-samar tercium. Perjalanan yang ditempuh sekitar empat jam itu memberi ruang bagi kami untuk membayangkan bagaimana kehidupan di desa tujuan, wilayah pesisir Kubu Raya, Desa Mengkalang Jambu.
Mengkalang Jambu menyambut kami dengan lanskap yang khas. Di sepanjang tepian sebelum memasuki desa terdapat vegetasi mangrove, nipah, dan bakau yang tumbuh rapat, menjadi penanda kuat bahwa wilayah ini berada dalam ekosistem peralihan antara darat dan laut. Permukiman warga mengikuti alur sungai dan jalan darat yang terbatas, seolah menyesuaikan diri dengan kondisi alam di sekitarnya.
Parit besar membelah desa dan tampak menjadi urat nadi kehidupan sehari-hari. Di atasnya, sesekali melintas speedboat dan sampan warga, membawa hasil laut atau mengangkut penumpang. Di tepian parit, terlihat alat-alat pompa air yang selangnya terpasang menuju rumah-rumah warga, sebuah penanda bahwa air ini masih digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Di sela itu, anak-anak mandi dengan riang, menambah suasana hidup di sepanjang aliran parit.
Sesampainya di Kantor Desa Mengkalang Jambu, panas terik yang menyengat langsung menyapa. Namun, kegarangan cuaca itu luruh oleh hangatnya sambutan Pak Kepala Desa. Sebuah idiom dari bahasa lokal, “Kecik telapak tangan nyaruk pun ditadahkan“, diucapkan beliau sebagai tanda penerimaan yang tulus bagi siapa pun yang datang dengan niat baik untuk membangun desa.
Terseret ke dalam kecurigaan
Namun, di kunjungan ini ada pula ketegangan yang terasa nyata. Sore hari ketika kami hendak melakukan perjalanan pulang dari rapat PUMK, kami bertemu dengan seseorang pria di pinggir parit yang sedang memanen kelapa menaiki sampan. Melihat eksistensi kami, ia berjalan meninggalkan sampannya menghampiri kami. Setelah mendengar bahwa kami dari YPI dan sedang melakukan orientasi penelitian, ia mempertanyakan tujuan program YPI yang berjalan di desanya. Nada bicaranya meninggi, tangannya sedikit bergetar. Ia meluapkan kekhawatiran bahwa program hanya menguntungkan segelintir pihak saja. Pertanyaan itu ia ulang beberapa kali tanpa penyelesaian.
Kejadian ini mendorong kami untuk menanyakan lebih lanjut terkait pria tersebut kepada masyarakat sekitar. Kami mendengar bahwa ia pernah mengalami pengalaman buruk dengan perusahaan kelapa sawit. Ternyata, luka itu tidak pernah sembuh, dan ia sekarang terkenal sebagai salah satu orang yang memiliki sifat unik. Masyarakat desa sudah tidak merasa heran ketika ia tiba-tiba berbuat kegaduhan yang membuat orang lain merasa tidak nyaman. Kemarahannya, meskipun diarahkan kepada kami, mungkin berakar dari rasa kecewa dan ketidakpercayaan yang jauh lebih dalam terhadap pihak luar yang datang membawa perubahan ke desanya. Kejadian ini mengingatkan kami bahwa peneliti di lapangan bukan sekadar mengamati dari luar. Dalam banyak momen, kami justru ikut terseret ke dalam relasi, kecurigaan, dan harapan yang tidak selalu terucap secara gamblang.
Garam dan Asam
Di hari yang sama, kami menyaksikan sisi lain kehidupan desa melalui pengobatan tradisional yang dijalani Kak Desintha. Sebelum berangkat ke Mengkalang Jambu, kaki Kak Desintha terkilir. Hal ini membuat pergelangan kakinya membengkak setelah banyak melakukan aktivitas, terutama berjalan kaki. Pergelangan kakinya yang bengkak ditangani oleh seorang dukun pijat setempat. Ia mengoleskan ramuan dari campuran rempah, lalu membungkusnya dengan daun mengkudu yang diikat perlahan di sekitar kaki yang sakit.
Prosesnya tidak berhenti di situ. Ada tahapan yang oleh warga disebut sebagai ‘mematikan obat’. Kami diminta untuk membawa garam dan asam jawa sebagai syarat pengobatannya, yang menurut dukun pijat merupakan bagian paling penting untuk penyembuhan. Ia mengibaratkan masakan jika tidak ada garam dan asam, rasanya akan kurang. Setelah dibacakan do’a, ia mengoleskan garam dan asam ke mulut Kak Desintha. Kak Desintha dan saya lumayan terkejut karena kami kira garam dan asamnya akan dibuat untuk memijat kaki, ternyata malah dioleskan ke mulut. Bisa dibilang, kami sudah sedikit makan garam dan asam di Mengkalang Jambu.

Pergi Untuk Kembali
Apa yang kami lihat di Mengkalang Jambu sejauh ini terasa baru sebagai permukaan. Masih ada banyak hal yang belum kami pahami, belum kami dengar, dan mungkin belum siap untuk sepenuhnya diperlihatkan. Dan justru di situlah perjalanan ini menemukan maknanya: sebagai proses yang tidak tergesa, yang memberi ruang untuk terus belajar, sekaligus menyadari betapa sedikitnya yang benar-benar sudah kami mengerti.
Orientasi awal ini menyatukan paham kami terkait bagaimana kami akan melaksanakan penelitian di lokasi yang berbeda. Kami akan menyebar ke empat wilayah studi untuk memulai observasi partisipan intensif secara serentak. Kak Desintha akan ke Dusun Dawar, Desa Pisak, Kabupaten Bengkayang; Fahmi akan ke Dusun Ladak, Desa Meragun, Kabupaten Sekadau; Fara akan ke Desa Kenyabur, Kabupaten Ketapang, dan saya (Dewi) akan kembali ke Desa Mengkalang Jambu.
Kembali ke Mengkalang Jambu merupakan suatu keuntungan sekaligus tantangan. Saya beruntung karena sudah mengantongi informasi awal dari kunjungan orientasi perdana. Namun, penelitian intensif yang kini harus saya jalani sendiri menuntut fokus yang lebih tajam. Fokus riset saya akan bergeser dari sekadar mencatat gambaran awal dan tantangan permukaan dalam membangun konservasi yang dipimpin masyarakat, menuju upaya untuk memahami akar dari setiap dinamika yang terjadi sepanjang perjalanan pembentukan konservasi tersebut.
Saya berharap penelitian ini dapat menjadi jembatan narasi yang utuh, yang mampu menampilkan kompleksitas desa ini tanpa menyederhanakan cerita asli di dalamnya.