Aroma sup babi hutan memenuhi rumah sore itu. Ramai derap langkah anak-anak dan kucuran tuak dan arak memenuhi gelas kami, cerita dan nyanyian para warga berseliweran. Tuan rumah menunjukkan momen-momen keberhasilannya menangkap babi hutan dengan mata yang berbinar mengalahkan layar ponselnya.
Orang-orang Kampung Ladak selalu berkumpul setiap hari. Sepulang dari ladang maupun sungai, kerap kali mereka menikmati minuman dan kudapan sore di rumah salah seorang warga, berbincang tentang apa saja demi mengusir senggang. Namun, sore ini terasa istimewa, bak sebuah pesta perayaan yang merefleksikan tentang bagaimana bentang alam yang kian berubah.

Mengonsumsi, menjual, dan menyelamatkan satwa liar
Disaat kita duduk bersama, pembicaraan mengisyaratkan akan langkanya babi hutan dan kijang, serta bagaimana keberuntungan pemburu setempat yang kian sirna. Perolehan babi hutan seberat 60 kilogram dikatakan “raksasa” dengan standar hari ini. Para warga kampung mengatakan kalau angka serupa di masa lalu adalah hal lumrah, ketika daging buruan adalah sumber protein utama mereka. Meski begitu, disaat hewan buruan semakin langka, makna dari berburu berlipat ganda. Dari hal ini kita dapat memaknai bahwa piring-piring di rumah warga dapat merefleksikan lanskap yang berubah.
Para orang tua mengenang waktu ketika hutan terasa “bebas” dan bahkan spesies yang dilindungi—seperti trenggiling, enggang, kelempiau—adalah bagian dari makanan sehari-hari ketimbang tangkapan yang patut dirayakan. Seiring berjalannya waktu, dengan meningkatnya integrasi pasar, kegiatan berburu semakin berorientasi pada motivasi ekonomi. Hal ini semakin didukung ketika masyarakat menyadari bahwa paruh enggang dan sisik trenggiling bisa “ditukar” dengan uang. Kemudian, pada akhir 2010an LSM mulai masuk ke Ladak dan mengenalkan ide-ide baru perihal bagaimana seharusnya mereka memandang hutan, satwa, serta lingkungan secara luas. Sekarang, mereka diminta untuk menahan diri dari memburu spesies terancampunah dan perlahan beralih menjadi mitra aktif dalam upaya konservasi. Sebagian besar warga desa memang telah berhenti menembah satwa, walau segelintir orang masih tetap memasang jerat dan perangkap binatang. Sementara itu, orang-orang dari luar desa justru masih saja bebas keluar-masuk hutan dengan menenteng senapan mereka.
Ambigunya kegiatan konservasi
Dari semua perubahan ini, tidak ada satupun yang sederhana maupun tuntas. Sebagai contoh, saya menangkap adanya ambiguitas dalam identitas anggota tim patroli, yang sebagian besar merupakan pemuda. Dua di antara mereka adalah mantan pemburu ulung, dan mereka adalah kakak-beradik. Mereka menguasai sudut-sudut hutan lebih baik dibandingkan kawan-kawan sejawat mereka. Bagi mereka, berburu tidak pernah sekadar tentang urusan pemenuhan protein harian. Berburu adalah pemenuhan kepuasan emosional dan proses pengumpulan trofi pribadi.
Identitas mereka seketika bergeser ketika mereka memutuskan untuk terlibat dalam inisiatif patroli hutan dan terpapar ide-ide konservasi. Keterlibatan ini menyematkan identitas baru untuk mereka. Kini mereka menapaki jejak-jejak dalam hutan sebagai bagian dari konstelasi konservasi dunia.
Meski begitu, terselip sebuah ironi dari peran yang mereka mainkan dalam agenda konservasi. Ketika wacana konservasi global kian merayakan jerih payah pemantauan dalam hutan, mereka sendiri justru memilih untuk tetap bergerak dalam bayang-bayang. Rasa cemas akan keselamatan diri mereka membayangi para anggota tim. Ada risiko nyata mereka akan diserang oleh para pemburu dari luar kampung jika nekat mengonfrontasi mereka di dalam hutan. Pada akhirnya, identitas “mahasiswa pecinta alam” lah yang kemudian dipakai oleh mereka ketika tidak sengaja bertemu dengan para pemburu.

Apa yang tersirat dalam perjamuan
Pesta babi hutan ini memberikan pelajaran penting bagi konservasi yang dipimpin masyarakat. Program konservasi telah mencoba untuk mengarahkan Ladak pada “masa depan baru”, ketika mantan pemburu menjadi penjaga satwa liar. Meski demikian, perjamuan ini menyingkap bahwa praktik tradisional, integrasi pasar, dan giat konservasi tidak menggantikan satu sama lain dalam linimasa yang linear. Satwa liar memang kian langka, namun berburu tidak serta merta kehilangan nilai kepentingannya. Adapun, kesuksesan berburu menjadi semakin istimewa, menjadi medium mengalirnya cerita dan ledakan perayaan.
Seperti kegiatan berburu, giat konservasi juga bernegosiasi di antara kemungkinan yang tumpang tindih. Cerita dua kakak-beradik tadi menggambarkan, mereka tidak serta merta berubah dari pemburu menjadi pegiat konservasi secara gamblang. Mereka tetap memegang berbagai identitas dalam waktu bersamaan yang saling bersilangan dan berdampingan. Posisi identitas ini melahirkan bentuk-bentuk yang kompleks, hibrida, dan terkadang membuat mereka ada dalam posisi yang problematik. Oleh karena itu, demi menghadirkan sebuah narasi jujur perihal konservasi yang dipimpin masyarakat, kita tidak bisa sekadar menggambarkan masa depan yang dibayangkan oleh program konservasi semata. Kita justru harus menaruh perhatian pada ambiguitas yang lahir ketika visi-visi besar itu mulai berpijak dan berbenturan dengan kondisi akar rumput.